Wilayah Malaysia kembali diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Departemen Lingkungan Hidup (DoE) Malaysia pada Rabu (26/8) pagi, sebanyak 17 stasiun pengamatan kualitas udara di seluruh Negeri Jiran mencatat tingkat polusi berada dalam kategori "Tidak Sehat".
Wilayah Sarawak dan Lembah Klang menjadi area dengan dampak terparah. Angka Indeks Polutan Udara (API) tertinggi tercatat di Sri Aman (Sarawak) mencapai 167, disusul oleh Serian (166), Samarahan (162), serta Nilai di Negeri Sembilan (162). Beberapa area padat penduduk seperti Cheras (Kuala Lumpur), Putrajaya, Shah Alam (Selangor), hingga Seremban juga mencatat skor API di atas 150. Sebaran polusi ini bahkan meluas ke wilayah Johor, Melaka, hingga Perak.
Kementerian Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia memperingatkan bahwa fenomena kabut asap ini diprediksi masih akan berlangsung cukup lama. Hal tersebut dipicu oleh kombinasi cuaca kering akibat musim kemarau El Nino, rendahnya curah hujan, serta aktivitas pembakaran lahan terbuka—baik yang berasal dari karhutla di Indonesia maupun pembakaran lokal di lahan gambut Malaysia.