Banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah Nepal sejak Rabu (26/8/2026) memicu bencana kemanusiaan besar dengan menelan sedikitnya 157 korban jiwa, 75 orang luka-luka, dan ratusan warga lainnya dilaporkan hilang. Berdasarkan analisis para ahli geofisika, akar penyebab bencana mematikan ini berhulu dari sebuah peristiwa geofisika berskala masif di kawasan Pegunungan Himalaya.
Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menjelaskan bahwa bencana dipicu oleh tanah longsor dahsyat di celah pegunungan yang meruntuhkan sebagian gletser besar di Himalaya. Benturan dan hempasan jutaan ton material batuan serta es tersebut menghasilkan pelepasan energi luar biasa tinggi hingga terdeteksi oleh jaringan seismograf global sebagai getaran setara gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2.
Longsoran batuan dalam skala raksasa itu menimbulkan peningkatan suhu ekstrem akibat gesekan, yang secara instan mencairkan gletser dalam jumlah sangat besar. Percampuran antara es yang mencair, air, dan reruntuhan material lumpur serta batu meluncur deras ke arah lembah dengan kecepatan mencapai 44 mil per jam (sekitar 70 km/jam). Volume material yang sedemikian besar membuat gelombang banjir meloncat hingga ketinggian 39 hingga 48 meter, sehingga menghantam pemukiman di kaki gunung tanpa memberi waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri.